Paket Harga untuk Seragam SMA


Pasca penerimaan peserta didik baru (PPDB), orangtua siswa kali ini disibukkan bersama dengan pembelian seragam sekolah. Hal inilah yang kadang waktu dimanfaatkan oleh oknum yang mengatasnamakan sekolah untuk mewajibkan orangtua siswa membeli paket seragam. Padahal menurut ketetapan yang ada, sekolah tidak diperbolehkan memaksa orangtua siswa untuk membeli seragam lewat guru atau koperasi sekolah.

Salah satu orangtua siswa SMA Negeri 6 Semarang, sebut saja Aliando, mengaku resah lantaran meraih surat edaran dari koperasi sekolah yakni ‘Koperasi Ronggolawe Makmur’ untuk membeli seragam. Lebih parahnya, seragam yang di tawarkan berikut cukup mencekik nyaris meraih Rp 1,7 juta. seragam SMA 

“Nilai berikut rinciannya untuk seragam busana putih, rok/celana abu-abu, busana pramuka, rok/celana pramuka, busana batik sekolah, busana batik Semarangan, rok/celana putih, kaos olahraga dan celana, ditambah kelengkapan lainnya seperti badge, lokasi, logo sekolah, topi, dasi dan kuncir pinggang,” katanya kala ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Senin (16/7) siang. seragam sekolah 

Surat edaran berikut dibagikan dikala orangtua siswa baru dihimpun di SMAN 6 Semarang lewat surat edaran berwarna kuning dan hijau. Akibatnya, berjalan kekrisuhan lantaran biaya berikut dianggap terlampau mahal, dan belum termasuk biaya jahit yang kudu dikeluarkan orangtua. “Harga segitu nggak memahami sepesifikanya, mahal banget dan memberatkan,” keluhnya.

Namun pihaknya mengaku takut untuk komplain, lantaran kuatir putra mereka akan meraih tekanan dari oknum sekolah. Menurut dia, keluhan yang sama termasuk diungkapkan orangtua siswa lain. “Sepertinya kudu gara-gara kudu ditandatangani orangtua siswa, kemarin banyak yang berkenan komplain, tetapi takut jikalau malah berjalan kasus dan efeknya ke anak,”ucapnya.

Menurut Aliando, besaran berikut terlampau memberatkan orangtua siswa, lebih-lebih untuk keluarga yang tidak mampu. Selain itu, didalam surat edaran yang diterima, termasuk tidak terkandung spesifikasi kain yang ada didalam satu paket yang di tawarkan pihak koperasi. “Kalau mampu kami beli sendiri untuk seragam putih abu-abu dan pramuka agar harganya lebih murah, yang seragam batik ataupun seragam olahraga beli di sekolah ngga apa-apa,”tuturnya.

Terkait Info tersebut, Kepala SMAN 6 Semarang, Dra Lukita Yuniati MKom mengaku jikalau pihak sekolah membiarkan orangtua siswa untuk membeli seragam dimanapun sesuai bersama dengan kemampuan. “Kami tidak memaksa, sebenarnya lewat koperasi dihidangkan seragam baru. Namun tidak boleh ada paksaan untuk beli di situ,” sanggahnya.

Selain segaram putih abu-abu, dan seragam pramuka, di SMAN 6 Semarang sebenarnya mempunyai seragam batik dan seragam olahraga yang tidak dijual di pasaran, tetapi dihidangkan di koperasi. Ia menegaskan, untuk seragam umum, pihak sekolah sendiri siap melayani jikalau sebenarnya ada yang melakukan pemesanan.

“Kalau berkenan beli di luar silakan, kami fleksibel Mas, untuk batik dan olahraga sebenarnya dijual di koperasi. Apalagi menurut ketetapan sebenarnya tidak boleh mengharuskan orang tua siswa beli disekolahan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, dirinya menambahkan kebijakan selama 1 bulan ke depan kepada siswa baru tidak kudu pakai seragam SMA, dan diperbolehkan memakai seragam SMP selama belum mempunyai seragam. “Kami beli kelonggaran, hingga tanggal 16 Agustus. Tanggal 17 Agustus kudu pakai seragam gara-gara ada upacara HUT Kemerdekaan. Jadi, orangtua siswa boleh beli sendiri, ataupun beli di sekolah, silakan,” katanya.

Ketika dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Kepala SMAN 11 Semarang Drs Supriyanto MP mengatakan, pihak sekolah termasuk membiarkan orangtua siswa untuk membeli seragam di luar sekolah. “Aturannya sebenarnya tidak boleh mewajibkan Mas, jadi silahkan beli di mana tetapi koperasi senantiasa menyediakan,” tambahnya.

Selain segaram putih abu-abu dan pramuka, lanjut Supriyanto, ada seragam sekolah tertentu yang cuma dijual di koperasi sekolah, yakni seragam batik dan seragam olahraga. “Kalau batik dan busana olahraga sebenarnya cuma ada di koperasi, tetapi busana yang lazim sekali lagi kami tidak mewajibkan,” tegasnya.

Aturan terkait jual beli seragam sekolah pun dikerjakan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang, yang melarang pihak sekolah mewajibkan atau memaksa orangtua siswa membeli seragam sekolah lewat koperasi sekolah. “Aturannya tidak boleh jikalau mewajibkan,” tegas Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin.

Ia menjelaskan, seragam sekolah sendiri masuk didalam biaya personal siswa ataupun orangtua siswa. Sehingga untuk memenuhinya, pihak sekolah tidak boleh ikut campur.

Bunyamin sendiri siap menindak tegas, jikalau ada laporan masyarakat terkait memaksa atau mewajibkan orang tuasiswa membeli seragam sekolah di koperasi, lebih-lebih untuk tingkat SD,SMP. “Kalau seragam kan biaya personal, terserah berkenan beli di mana. Kecuali seragam yang berwujud khusus, sekiranya batik dan busana olahraga, jikalau ada yang memaksa mampu lapor aku akan kami tindak lanjuti,” tegasnya.(den/mg15/aro)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *