Generasi Milenial dan Keuangan Mereka

Tidak ada habis-habisnya orang membahas mengenai generasi yang sedang naik daun ini yaitu generasi millenial. Kenapa? Karena sebagian dari mereka sudah tumbuh dewasa dan memasuki usia bekerja. Lalu apa yang ada di dalam kepala mereka dan apa pandangan mereka tentang keuangan dan investasi sangat menarik untuk dibahas.

Perlu diingat dan dicatat bahwa milenial yang kita bicarakan di sini adalah yang hidup di kota besar dengan akses mudah ke teknologi.

Milenial Tidak Banyak Menabung/Investasi
Hasil ngobrol dengan mahasiswa/wi baik S1 maupun S2 menunjukkan mereka cenderung tidak banyak menabung apalagi berinvestasi meskipun mereka sebenarnya ingin tahu dan ingin belajar. Kebanyakan orang mengatakan bahwa mereka tidak dapat menabung dan investasi karena tidak punya uang lebih. Ketika digali lebih dalam lagi, kebanyakan pengeluaran mereka habis untuk nongkrong di kafe sepulang kantor atau pulang kuliah dan hal ini dilakukan hampir setiap hari.

Dapat dibayangkan jika sekali duduk menghabiskan Rp 50.000 – Rp 100.000 maka per minggu mereka dapat menghabiskan Rp 250.000 – Rp 500.000 (hanya menghitung hari kerja saja, tidak menghitung pengeluaran weekend). Artinya secara rata-rata mereka menghabiskan Rp 1 juta – Rp 2 juta per bulan untuk nongkrong saja. Enggak heran kalau mereka tidak bisa menabung dan investasi.

Di Amerika Serikat juga terjadi hal yang sama di mana milenial hanya mempunyai uang sedikit dikarenakan rendahnya penghasilan yang mereka terima dan di saat yang bersamaan kebutuhan hidup dan gaya hidup mereka juga tinggi.

Milenial Cenderung Tidak Mau Punya Aset
Kata kunci ‘sharing economy‘ sudah seperti menjadi jargon bagi milenial di Dunia termasuk juga di Indonesia saat ini. Hal tersebut dapat dilihat dari berkembangnya bisnis-bisnis berbasis sharing alias berbagi dengan menggunakan (iddle capacity) alias tempat kosong yang tidak terpakai. Dan rata-rata semua ini berbasis teknologi. Sebagai contoh penginapan dengan AirBnB, kendaraan dengan Uber, GoJek group, Co-worsking space dan lain sebagainya.

Akibatnya dapat dilihat dari banyak milenial yang nyaman menyewa apartemen dan kos-kosan dibandingkan membeli. Banyak milenial juga yang lebih memilih untuk menggunakan moda transportasi taksi online yang lebih murah dibandingkan membeli kendaraan. So, dapat ditebak kepemilikan aset mereka juga menurun.

Status Sosial Milenial Berbeda
Bagi generasi X status sosial ditunjukkan dengan kunci mobil alias jenis kendaraan yang dimiliki. Merek-merek ternama seperti Mercy, BMW menjadi status kesuksesan seseorang. Bagi generasi milenial status sosial tidak terletak pada mobil apa yang mereka miliki akan tetapi lebih kepada gadget terbaru apa yang mereka miliki. Telepon pintar, tablet dan laptop merek Apple, Kamera Mirrorless, Jam tangan pintar yang terhubung dengan telepon pintar dan banyak lagi teknologi terbaru lainnya yang bisa mereka milikilah yang kemudian menjadi status sosial generasi milenial. Oleh karena itu kepemilikan aset pun bergeser dari rumah dan mobil ke teknologi dan gadget.

Milenial Cenderung Mencari Pengalaman (Travelling)
Salah satu alasan mengapa generasi milenial tidak bisa menabung dan berinvestasi adalah mereka cenderung menghabiskan uang mereka untuk jalan-jalan mencari pengalaman dan mengunjungi tempat-tempat baru. Untuk mereka aset terpenting adalah pernah mendatangi tempat baru. Belum lagi dengan adanya teknologi dan media sosial memungkinkan mereka untuk menunjukkan jati diri dengan memamerkan posisi mereka mengunjungi tempat-tempat tersebut.

Terlihat bagaimana generasi milenial tidak siap secara finansial. Padahal pada saat mereka beranjak dewasa (tua) kebutuhan hidup mereka pun kurang lebih akan sama banyak dan pentingnya seperti generasi sebelumnya (generasi X dan generasi Baby Boomer). Itulah mengapa penting juga bagi generasi milenial untuk belajar mengelola keuangan dan investasi.

Jangan takut bahwa banyak generasi melenial yang melakukan hal-hal di atas. Sekali lagi generasi milenial yang kita diskusikan di sini adalah mereka yang tinggal di kota besar. Sementara milenial di daerah dan pedesaan masih mengacu ke konvensional meskipun sebagian dari mereka juga telah melek teknologi. Namun kita juga tidak boleh lengah karena dalam waktu kurang dari 5 tahun, dengan kemajuan teknologi dan dengan semakin murahnya akses internet, bisa jadi generasi milenial di kota kecil dan pedesaan mengikuti gaya generasi milenial yang tinggal di perkotaan. Siap-siap saja.

Sumber: detikFinance

 

Leave a Reply